Langsung ke konten utama

Postingan

Asupan Pikiran

Ketika Anda merasa lapar dan di hadapan Anda tersaji tiga menu yaitu makanan rumahan, makanan hotel berbintang lima, dan makanan dari keranjang sampah. Mana yang akan Anda pilih? Ketika pertanyaan ini dilontarkan oleh Dr. Ibrahim dalam seminar dan pelatihan yang Ia gelar, tak seorang pun memilih makanan dari keranjang sampah. Ada yang memilih makanan rumahan dan makanan hotel hotel berbintang. Mengapa demikian? Karena, setiap orang sangat memerhatikan kelangsungan hidupnya. Tak seorang pun memilih sesuatu yang berdampak negative bagi kelangsungan hidupnya. Namun, Jika manusia benar-benar tidak ingin meletakkan sesuatu yang berbahaya dalam tubuhnya, lalu mengapa ia mengisi pikirannya dengan hal-hal yang berpengaruh negative pada setiap aspek hidupnya, termasuk kesehatan jiwa dan raganya? Mengapa Ia memberi gizi pikirannya dari keranjang sampah? Hal ini bergantung pada proses sebelumnya: orangtua, keluarga, lingkungan, sekolah dan media informasi. Jadi, kita hampir tak punya pili...

Lidah dan Akal

Seorang anak laki-laki duduk di hadapan Rasulullah saw. mendengarkan untaian ilmu penuh hikmah dengan keseriusan. Dengan mudahnya ia mencerna kata demi kata yang mengalir dari bibir Rasulullah saw. dan menyerapnya. Rasa keingintahuan yang tinggi membuatnya betah berada di sisi beliau untuk belajar tanpa mengenal waktu dan lelah. Anak lelaki itu adalah Ibnu Abbas r.a. Ketinggian ilmunya didengar oleh para sahabat sepeninggal Rasulullah saw. Padahal, saat itu lbnu Abbas r.a. baru berusia 13 tahun. Umar bin Khaththab r.a. pun sering meminta pendapatnya ketika menghadapi masalah yang pelik. Ketika seorang sahabat bertanya kepadanya, "Bagaimana engkau mendapatkan ilmu ini, wahai Ibnu Abbas?. Dengan lidah yang gemar bertanya dan akal yang suka berpikir," jawabnya. Dari hal itulah Ibnu Abbas r.a. menjadi tempat bertanya karena kegemarannya bertanya. la pun menjadi tempat mencari ilmu karena kegemarannya mencari ilmu. source: ceritainspirasimuslim